NHW#9 Bunda Sebagai Agen Perubahan

Sebagai seseorang yang memiliki passion di dunia pendidikan, yang Alhamdulillah ditunjang dari latar belakang yang mendukung, memiliki suatu cita-cita untuk dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas SDM Indonesia. Ketika melihat banyak fenomena yang terjadi pada generasi muda saat ini, menjadi suatu hal introspeksi buat saya pribadi sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. 

Tak dapat dipungkiri bahwa kualitas SDM suatu negera ditentukan dari seberapa kualitas pendidikan yang berlangsung di negara tersebut, dan kualitas pendidikan sebagian besar dipengaruhi oleh seberapa berkualitasnya para guru. Guru lah yang mengajarkan amanat pemerintah yang tertuang dalam sebuah dokumen yang diberinama kurikulum. Sebagai seorang magister pengembangan kurikulum saya menyadari bahwa kurikulum sebagus apapun ketika tidak didukung oleh kualitas guru yang baik, maka kurikulum yang sudah dibuat tidak akan memberikan dampak yang signifikan. 

Hal yang menjadi sorotan ketika berbicara mengenai kualitas guru yaitu bagaimana "menyampaikan" isi kurikulum tersebut kepada subjek alias siswa. Ketika saya fokus pada permasalahan penyampaian ini, saya menemukan GAP yang menyebabkan kurikulum yang dibuat tidak tersampaikan dengan baik yaitu karena guru-guru di Indonesia sebagian besar tidak dibekali dengan kemampuan komunikasi yang mumpuni. Bagaimana cara berkomunikasi dengan siswa  agar terpengaruh, bagaimana cara berkomunikasi agar siswa bergerak, bagaimana cara menyampaikan materi pelajaran dengan bahasa yang mudah dipahami, bagaimana bahasa tubuh yang sesuai ketika mengajar, bagaimana intonasi yang sesuai ketika mengajar. Hal inilah yang menjadi keresahan saya tersendiri sebagai seorang pendidik fresh graduate yang kemudian dihadapkan dengan berbagai macam karakter siswa. maka dari itu saya menginisiasi adanya SpeEd (Speek for Education) Movement, yaitu sebuah gerakan untuk menjadi wadah bagi para calon pengajar dalam meningkatkan kemampuan public speaking spesifik untuk mengajar. 

Kemudian selain permasalahan tersebut, ada permasalahan lain yang membuat saya tergerak untuk melakukan perubahan. permasalahan lainnya yaitu masyarakat Indonesia sebagian besar belum bisa menentukan KEBUTUHAN BELAJAR nya, kebutuhan belajar seperti apa? saya buat analoginya

Ketika seseorang ingin menjadi seorang PEBISNIS KULINER, maka ada PENGETAHUAN dan KETERAMPILAN yang perlu dikuasai dalam dunia kuliner agar dapat menjalankan peran tersebut dengan kompetensi yang memadai. namun faktanya banyak yang berminat jadi pebisnis kuliner tetapi mengambil pelatihan dan seminar yang menghabiskan uang yang tak sedikit dan tidak sesuai dengan kebutuhan. Alhasil banyak uang, energi, waktu, dan pikiran yang terbuang begitu saja tanpa meninggalkan jejak perubahan baik dalam diri maupun bisnis yang dijalankan

Seperti pepetah " jangan takut pada pendekar yang menguasai 1000 jurus, tapi takutlah pada pendekar yang hanya menguasai 1 jurus"

Makna dari pepatah ini adalah jika kita ingin dikenal dan kompeten dalam suatu hal maka, FOKUSLAH pada HAL-HAL yang MEMANG PERLU untuk DIPELAJARI. Karena dengan fokus mempelajari suatu hal, PEMAHAMAN akan Terbentuk dan SKILL pun akan mudah DILATIH sehingga nantinya kita dapat dikatakan sebagai seorang yang KOMPETEN dalam bidang yang diinginkan. Karena hasrat inilah saya berinisiasi mencetuskan gerakan FTF (Find to Find), setiap orang yang berkonsultasi dengan saya setelahnya mereka wajib membantu minimal 1 orang untuk menemukan Kebutuhan Belajarnya.

Semoga dengan adanya gerakan ini dapat menjadi jalan untuk semakin memperbanyak manfaat untuk orang lain

Salam
Ridha Hidayani, M.Pd
Learning Consultant






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Exe

Analisis Input-Proses-Output

Suamiku