KOMUNIKASI ITU
PENTING!
Jangan-jangan
kita sebagai orangtua, selama menjalani kehidupan keluarga hanya menghabiskan
waktu untuk mencari nafkah? Tidak ada waktu untuk mencoba bekomunikasi dengan
anak-anak kita, memberikan semangat, memberikan pandangan tentang hidup yang
bakal dihadapi.
“Kamu ingin jadi
apa, Nak, nanti kalau sudah besar?”
Kata-kata seperti
itu untuk anak-anak kita sangatlah menyejukkan bagi hati mereka. Bukan cuma
bilang, “Kamu nggak boleh ini, itu, inu, dll.” Apakah kita ingin dalam waktu
membesarkan anak-anak kita hidup seperti air mengalir?
Tiba-tiba anak
kita sudah masuk SD.
Tiba-tiba masuk SMA.
Tiba-tiba sudah lulus kuliah.
Tiba-tiba sudah kawin.
Tiba-tiba kita sudah punya cucu.
Tiba-tiba masuk SMA.
Tiba-tiba sudah lulus kuliah.
Tiba-tiba sudah kawin.
Tiba-tiba kita sudah punya cucu.
Tiba-tiba nyawa
kita sudah mau diambil malaikat.
Hidup kita ini sangatlah pendek, Kawan. Coba dibandingkan dengan umat-umat nabi yang terdahulu. Ada yang 500 tahun, 800 tahun, dll. Umur kita juga sangatlah terbatas untuk melihat anak kita tumbuh dan berkembang.
Ada teman saya
yang orangtuanya tidak ada waktu untuk mengobrol enak dengan si anak. Orangtua
sibuk banting tulang untuk membiayai hidup seluruh keluarga. Orangtua pulang
sampai rumah sehabis Maghrib. Gara gara capek dan bete dengan masalah
pekerjaan, di rumah kerjaannya maraaaaahhhhhhh terus. Kayak nggak ada benernya
urusan di rumah.
Setiap hari hal
ini yang terjadi. Mood-nya orangtua yang kecapekan kerja selalu tidak bagus.
Kalau orangtua mood-nya lagi bagus, tapi si anak moodnya lagi jelek,
orangtuanya menganggap si anak tidak hormat, jadi serba salah gini.
Ada juga cerita
seorang teman yang orangtuanya tak pernah peduli dengan prestasi anaknya,
sebagus apapun itu. Mereka tidak pernah memberi pujian apapun ke anaknya.
Awas, anak yang tidak pernah mendapat pujian di rumah, akan mencari pujian-pujian itu di luar.
Awas, anak yang tidak pernah mendapat pujian di rumah, akan mencari pujian-pujian itu di luar.
Pernah dengar
kisah nyata Ny. Ani yang membunuh ketiga anaknya sendiri?
Kalau belum akan
coba saya ceritakan sedikit.
Ani adalah
lulusan Institut terbaik di Indonesia dengan IPK hampir 4 (saya lupa 3,8 atau
3,9).
Keluarganya adalah keluarga yang ilmu agamanya kuat. Apa yang kurang dari dia?
Keluarganya adalah keluarga yang ilmu agamanya kuat. Apa yang kurang dari dia?
Selama hidupnya,
Ani TIDAK PERNAH SEKALIPUN DI PUJI OLEH IBUNYA. Apa pun yang dia buat, sehebat
dan sebaik apapun tidak pernak dipuji ataudielem (bahasa
Jawanya).
Dia belajar
mati-mati untuk mendapat pujian dari ibunya, sehingga lulus pun cum laude. Tapi apa kata ibunya?
“Gitu aja, semua orang bisa.”
Karena di omongin
begitu, setelah lulus kuliah Ani tidak kerja. Melanjutkan S2-nya di institut
yang sama. Hasilnya? Lulus dengan IPK 4,0 (demi mendapatkan pujian ibunya)
Apa kata ibunya?
Sekali lagi, “Kalau segitu sih, biasa.”
Ya Allah :(
Setelah menikah,
Ani dikaruniai tiga orang anak. Yang paling besar kalau tidak salah SD. Setelah
itu TK. Dan yang paling kecil masih bayi.
Karena dia memang
ditempa oleh orangtuanya dengan cara yang tidak tepat, sampailah cara itu pada
alam bawah sadarnya. Cara Ani mendidik anak-anaknya persis seperti ibunya
mendidik dia. Meskipun dia sering sadar kalau cara tersebut keliru.
Suatu ketika waktu
dia berdiam diri di rumah sambil melamun, mulailah setan berbisik, “Sebelum
ketiga anakmu menjadi korban si Ani (dirinya sendiri), seperti si Ani jadi
korban ibunya, mumpung mereka belum besar, lebih baik anak-anakmu dibunuh saja.
Daripada mereka tersiksa seperti si Ani sampai sekarang ini.”
Ani terpengaruh.
Dia ingin membunuh ketiga buah hatinya. Percobaan pertama dipergoki oleh
suaminya, sehingga gagal. Percobaan kedua dipergoki oleh pembantunya,
gagal maning,
gagal maning.
Hingga akhirnya
yang ketiga. Waktu itu suaminya ada panggilan tugas ke luar kota yang tidak
bisa ditinggalkan, pembantunya disuruh beli sesuatu di tempat jauh.
Ani mengawalinya
dari anak yang paling lemah, yaitu anak bayinya. Anak ketiga itu dikasih makan
sampai kenyang. Setelah kenyang, dibelai-belainya agar tertidur. Setelah tidur,
Ani mengambil bantal seraya berkata, “Tunggu Ibu di surga ya anakku.” Dengan dingin,
bantal dibenamkan menutupi wajah si bayi. Anak lucu itu pun tidak bergerak
lagi.
Anak kedua pulang
dari TK, sekitar jam 9. Disuruhnya anak itu cepat tidur, padahal belum waktunya
untuk tidur. Dibelai-belai rambut sang anak sampai dia benar-benar tertidur.
Setelah itu prosedurnya sama persis dengan yang dilakukan pada sang bayi.
Meninggallah anak kedua.
Prosedur sama
juga diterapkan untuk si sulung.
Dan akhirnya
terbongkarlah pebuatan Ani.
Untung bagi Ani,
waktu polisi menanyai si suami apakah dia mau menuntut istrinya, dia
menggeleng. Karena pria itu benar-benar tahu keadaan Ani.
Kesimpulannya:
"janganlah
anak-anak kita menjadi Ani-Ani yang lain. Perlakukanlah mereka dengan lembut,
ajarilah mereka tentang kebaikan, tentang tujuan hidup. Jangan hanya main
perintah saja.
Jangan sampai
pula seperti cerita salah seorang teman saya yang orangtuanya sering mengatakan
tanpa sadar, “Mestinya aku ngajari kamu dari kecil, sekarang sudah terlambat.”
Sumber: http://www.infobunda.com/
Komentar
Posting Komentar